Sabtu, 16 Juni 2012

MENTORING? NGAPAIN SIH?


Mungkin banyak warga sekolah yang bertanya, guru-guru sekalipun, “ngapain sih mentoring itu?”, atau bahkan banyak yang terjebak isu radikalisme juga NII yang pada akhirnya membuat orang berfikiran negatif dengan Mentoring, hampir di setiap sekolah yang ada Rohisnya. Padahal, “Judgment”,”Melabel” tanpa dasar dsb itu sangat menjatuhkan harga diri anak-anak usia remaja, karena sebelumnya mereka semangat. Kadang hal ini kurang terpikirkan oleh orang-orang dewasa.
 Hmm, kalau saya jadi warga sekolah, saya akan berpikir cerdas dan teliti, karena bisa jadi anggapan yang kurang baik ini melukai berbagai pihak, atau bahkan mengikis dan menghilangkan sumber motivasi yang selama ini ada di sekolah. Bahkan, kalau saya jadi kepala sekolah, saya pasti mewajibkan mentoring, kenapa? Karena secara psikologi, usia SMA itu merupakan masa Adolesence, yaitu masa remaja. Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Terus emang kenapa kalau sudah remaja? Harus banget gitu ikut mentoring? Diluar dari teori lah ya, kita bisa merasakan sendiri waktu kita sedang remaja terlebih saat SMA, bergerak tanpa arah terombang ambing kesana kemari, lebih banyak terpengaruh oleh lingkungan. Sebagai manusia yang lebih dewasa dari remaja, bukankah kita patut memerankan tugas kita yaitu (watawashou bil haq, saling menasehati dalam kebenaran), dan (watawashou bis shobri, saling menasehati dalam kesabaran). Jangan sampai surat Al-Ashr ini hanya bergema sangat keras saat doa pulang sekolah, tapi tanpa makna yang tidak akan diwujudkan dalam realita.


Iya sih, di kelas juga sudah belajar fiqih, aqidah dan lain-lain, tapi harus diingat bahwa, salah satu komponen pembelajaran, yaitu “metode dan media” 20% menentukan keberhasilan pembelajaran. Pembelajaran di kelas secara klasikal, ibarat gelombang, yaitu  yang terdekatlah yang akan terkena gelombang tersebut, yang duduk dibelakang hanya mendapat sedikit getarannya saja, dan menyebabkan tidak paham. Mentoring merupakan metode Focus Group Discussion yang memperhatikan rasio anak dan guru. Dengan mentoring yang biasanya berbentuk melingkar, merapat seolah tidak ada celah untuk syetan masuk, sampai-sampai kita bisa mendengar sangat dekat, kerucuk perut saudara kita yang sedang lapar, dengan itu banyak aspek yang dikembangkan. Kalau 20% nya metode, lalu 80% nya apa ? 80 % nya adalah ruhiyah mentor, iman,ikhlas dan ibadahnya. Kenapa? Karena Goal dari mentoring adalah Bagaimana Menyentuh Hati? Dan Hati akan tersentuh dengan Hati pula.
Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Ditambah lagi oleh hasil penelitian Erick Erikson dalam teori psikososial bahwa usia remaja itu masuk kedalam tahapan Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas). Mentoring membantu anak-anak untuk menemukan potensi dirinya, dengan bimbingan dari orang dewasa, materi yang mengarah kepada pembentukan perilaku, dengan pendekatan ketuhanan yang menyadarkan remaja akan tugasnya sebagai makhluk, sehingga proses pencarian identitas itu bisa berjalan dengan baik. 
Untuk lebih meyakinkan manfaat mentoring tersebut, berikut saya lampirkan dialog saat mentoring bersama anak MAN 15, Kamis 14 Juni 2012 di Mushalla Al-Inayah






......................................................................................................................................................
      Sudah saatnya mentoring dimulai, ternyata ketua ROHIS meminta untuk rapat, karena takut gak ada waktu lagi (kebayang muka bete adik2, karena setelah itu mentoring), saat itu anak-anak membahas tentang “Demo Eskul” dan “MSB”(Marhaban Siswa Baru).
Langsung saja, usai mereka rapat, dilanjutkan dengan mentoring
Kata seorang adik:“kak,jangan lama-lama ya...”
Oke kita sebentar saja... sampe jarum panjangnya ke angka 6..baik langsung saja kita buka dengan lafadz basmallah,. “ujar kaka pembimbing”
Nah sebelum masuk materi kaka mau nanya nih, teman-teman kalau shalat berapa lama sekaligus do’a?
Hmm..paling lama 5 menit kak udah sama doa “anak-anak jawab keroyokan”
Baiklah..kita kalikan dengan shalat 5 waktu: 5x5menit=25 menit “ujar kaka pembimbing”
 25 menit?..Bayangkan teman-teman.. 1 hari=24 jam, kita Cuma punya waktu bersama Allah 25 menit? Coba kita sama-sama pikirkan? Tega amat ya... 24 jam vs 25 menit. Mungkin lebih lama waktu nonton kita, waktu online kita, dan waktu sms an kita. Belom lagi kalau shalatnya sambil ngegalau..g khusyu dah jadinya..tambah tega sama Allah. Kalau jejak2 waktu kita diperlihatkan, tentu waktu bermain kita lebih banyak daripada waktu ibadah kita,meski beberapa jam teman-teman belajar di sekolah, tapi di sekolah juga kebanyakan mainnya, ya kan?.
Tapi Allah begitu baik teman-teman, segala aktivitas yang kita lakukan dapat bernilai ibadah..kalau? hayooo siapa yang tahu kalau apa?
Kalau dimulai dengan Basmallah kak.. “jawab seorang anak”
Yups betul sekali...
“Setiap pekerjaan penting yang tidak dibuka dengan bismillahirrahmanirrahim akan terputus”. (Abu Daud dan Ibnu Majah)
Ditambah apa lagi? Hayoo siapa yang tahuuuuu?.. tambah sunnnah nya Rasulullah, dari hal yang terkecil aja sampai shaum sunnah, shalat sunnah dsb. Mentoring yang kita lakukan insyaAllah bernilai ibadah teman-teman, karena ditemani malaikat yang mulia lagi taat.
Yups sekarang kita masuk materi. Materinya berjudul: “GALAU”
Anak-anak tertawa...#gue banget
Tau apa itu Galau?
Sakit hati kak, putus asa kak..bla bla bla bla.....”jawab anak-anak”
Sssssssssssst..kata Ibnu At-Thailah yang kaka baca di Novelnya kang Abik
“Cinta Sejati itu menyembuhkan, tidak menyakitkan”
Apaan kak..apaan kak? Dalem banget kata2nya...#sambil pada nyatet..”ujar anak-anak”
“Cinta sejati itu menyembuhkan, tidak menyakitkan”
(haha..pasti langsung lo tulis jadi status “ujar salah satu anak”)
Galau itu ya kalau kaka baca di artikel2 remaja, rasanya seolah-olah kayak butuh disiram shower kepalanya..saking enek dan pusingnya.. Pada pernah galau? “tanya pembina”
Nah, balik lagi ke kata2nya Ibnu At-Thailah...Maka kalau kamu ngerasa sakit, sama cinta yang belum waktunya.. itu bukan cinta sejati.
Kalian tahu? Kalau kita cinta sama makhluk, itu pasti kita akan ngerasa kehilangan,sama orang tua kita sekalipun apalagi sama laki-laki yang belum mahramnya, tapi kalau cinta sama Allah, kita g akan pernah kehilangan..selama kita jaga Allah di hati kita.
(anak-anak sibuk nyatet)
Ada dua hal teman-teman kata Ibnu Ath-Thailah hal yang bisa mencegah galau..mau tau?mau banget? “tanya kaka pembimbing”
1.      Rasa cinta kepada Allah yang luar biasa menggetarkan hati. Jadi gini teman-teman kalau cinta kita udah luar biasa sama Allah, dengan sendirinya cinta-cinta yang lain itu jadi kecil dan tersingkir.
2.      Rasa rindu kepada All ah yang dahsyat sampe kita merasa merana. Jdi bukan merana karena cinta yang lagu dangdut itu lho...Gini teman-teman, kalau dihati kita menyusup nih rindu-rindu kepada yang bukan mahram, maka periksalah tingkat kerinduan kita sama Allah. Pernah ngerasain gersang, karena g baca quran sehari? Atau pernah g ngerasain apa2, sampe bermaksiat pun g kerasa? Sampe nangis pun g bisa? Hati2 temen-temen...itu berarti nafsu amarah menguasi diri kita. Kalau kita sibuk mikirin Allah, maka kita g akan sibuk mikirin yang lain.

(masih pada sibuk nyatet)

Oh iya, tau gak Nabi juga pernah galau lho
(waaah,,..berarti kalau aq galau ngikutin sunnah donk)”ujar salah seorang anak sambil bercanda”
Sssssst..tunggu dulu..galau yang gimana dulu...”ujar kaka pembimbing”
Nih ya..kaka baca dari artikel ustadz asharudin dari facebook..

Galaunya Nabi  Ibrahim, Imran, dan Nabi Zakariya waktu mereka belum dikasih anak:

Ya… Allah, berikanlah kami keturunan, yang kelak akan meneruskan perjuanganku ini, meneruskan risalah-Mu ini."

Apa coba galaunya? Memohon minta anak tapi untuk meneruskan perjuangan..berarti galaunya untuk UMMAT.

Terus ada lagi galau dari Nabi Musa sampe-sampe Allah menjadikan Harun sebagai jubir dakwah

"Ya.. Allah, lidahku ini cacat, tak fasih jika aku memberi nasehat kepada umatku!"

Kemudian apa lagi coba, galau dari Nabi Muhammad Saw

"Ya.. Allah, umatku telah jauh tersesat, mereka menyekutukanmu, memakmurkan kemungkaran, dan menjauhkan kebaikan. Sedangkan aku adalah hambamu yang lemah, seorang yatim piatu! Bagaimana aku mampu mengubah mereka?"

Subhanallah..Nabi kita galau bukan karena memikirkan kesenangan diri sendiri, tapi keselamatan orang banyak. Mungkin sering kali kita galau “ya Allah jaga dia selalu buat aq ya, jodohin aq dengan dia”..hufft..sering begini

Makanya teman-teman bersyukur ada di AKRAM..Kenapa? Karena GALAU nya jadi terarah. Kaya tadi ..Galau nya karena MSB (Marhaban Siswa Baru).. Duuuuh dananya kurang banget ya... atau duuuh cokelatnya kurang ga ya? Duuuh siswa di MAN 15 ada berapa orang sih?

Nah, Subhanallah banget kan? Galau kalian barusan karena memikirkan Dakwah.. memikirkan kebaikan untuk siswa/i baru MAN 15.

Tiba-tiba 2 adik datang....

Padahal sudah mau selesai

Kak materinya tentang apa? Tanyanya

GALAU #”ujar pembina”

Ha? Galau? “jawab adik”

Kaka pembimbing mengulang: “Cinta Sejati itu menyembuhkan, tidak menyakitkan” kalau kamu cinta sama Allah kamu tidak akan pernah kehilangan.

Yaudah kita tutup dengan lafadz Hamdallah

Dan Adaa adik bilang: “Kak, belum sampe angka enam?”

Sang kaka pembimbing berfikir: Oh cepet juga ya... G apa2.. ^____^

“Kemudian pulang bersama”

Kesimpulannya: Sudahkah tahu sekarang apa yang dibutuhkan adik-adik kita? Dari kebutuhan perkembangannya tentu perhatian,kasih sayang, bimbingan dan arahan yang harus kita berikan. Cukup itu, dan tentu nya menyadarkan adik-adik bahwa kita perlu melibatkan Allah dalam segala aktivitas kita, dengan beegitu dirinya lebih terjaga.


”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” (Dr. G.J. Nieuwenhuis)

0 komentar:

Posting Komentar